Sabtu, 15 September 2018

Pengertian,Tujuan dan Fungsi Pelestarian Bahan Pustaka

           Dilingkungan perpustakaan, arsip dan museum belum ada kesepakatan dalam menafsirkan istilah pelestarian (preservation). Perbedaan ini dapat dilihat dalam beberapa buku yang membahas berbagai definisi mengenai pelestarian atau preservasi. Dalam The Principles for The Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau dan D.W.G. Clements, preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka. Sedangkan definisi lain menurut Introduction to Conservation, terbitan UNESCO tahun 1979 disebutkan bahwa istilah preservasi berarti penanganan yang berhubungan langsung dengan benda, kerusakan oleh karena udara lembab, faktor kimiawi, serangan dari mikroorganisme yang harus dihentikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (Perpustakaan Nasional, 1995:2).

Menurut Hazen sebagaimana dikutip oleh Gardjito (1991:91), istilah pelestarian meliputi 3 ragam kegiatan, yaitu:
kegiatan-kegatan yang ditujukan untuk mengontrol lingkungan perpustakaan agar dapat memenuhi syarat-syarat pelestarian bahan-bahan pustaka yang tersimpan di dalamnya.
berbagai kegiatan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memperpanjang umur bahan pustaka, misalnya dengan cara deasidifikasi, restorasi, atau penjilidan ulang.
seluruh kegiatan yang berkaitan dengan usaha untuk mengalihkan isi informasi dari satu bentuk format atau matrik ke bentuk lain. Setiap kegiatan menurut kategori-kategori tersebut itu tentu saja masih dapat dikembangkan lagi ke dalam berbagai aktivitas lain yang lebih khusus dan rinci.






Tujuan Pelestarian Bahan Pustaka
1.      menyelamatkan nilai informasi suatu dokumen
2.      menyelamatkan fisik dari suatu dokumen
3.      mengatasi kendala kekurangan ruang
4.     mempercepat perolehan informasi : dokumen yang tersimpan dalam CD (Compact disc), sangat mudah untuk di akses, baik dari jarak dekat maupun dari jarak jauh. Sehingga pemakaian dokumen menjadi lebih optimal.

Dengan pelestarian yang baik, diharapkan bahan pustaka dapat berumur lebih panjang, sehingga perpustakaan tidak perlu membeli bahan yang sama, yang dapat membebani pemesanan, pengolahan kembali, penempelan kartu-kartu, yang semuanya itu memerlukan uang untuk pengerjaannya. Dengan bahan pustaka yang lestari dan terawatt dengan baik, pustakawan dapat memperoleh kebanggaan dan peningkatan kinerja.

Fungsi Pelestarian
Fungsi pelestarian ialah menjaga agar koleksi perpustakaan tidak diganggu oleh tangan jahil, serangga yang iseng, atau jamur yang merajalela pada buku-buku yang ditempatkan di ruang lembab.
Jika disimpulkan maka pelestarian memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi melindungi: bahan pustaka dilindungi dari serangan serangga, manusia, jamur, panas matahari, air, dan sebagainya. Dengan pelestarian yang baik serangga dan binatang kecil tidak akan dapat menyentuh dokumen. Manusia tidak akan salah dalam menangani dan memakai bahan pustaka. Jamur tidak akan sempat tumbuh, dan sinar matahari serta kelembapan udara diperpustakaan akan mudah dikontrol..
2. Fungsi Pengawetan: dengan dirawat baik-baik, bahan pustaka menjadi awet, bisa lebih lama dipakai, dan diharapkan lebih banyak pembaca dapat mempergunakan bahan pustaka tersebut.
3. Fungsi Kesehatan: dengan pelestarian yang baik, bahan pustaka menjadi bersih, bebas dari debu, jamur, binatang perusak, sumber dan sarang dari berbagai penyakit, sehingga pemakai maupun pustakawan menjadi tetap sehat. Pembaca lebih bergairah membaca dan memakai perpustakaan.
4.Fungsi Pendidikan: pemakai perpustakaan dan pustakawan sendiri harus belajar bagaimana cara memakai dan merawat dokumen. Merea harus menjaga disiplin, tidak membawa makanan dan minuman kedalam perpustakaan, tidak mengotori bahan pustaka maupun ruangan perpustakaan. Mendidik pemakai serta pustakawan sendiri untuk berdisiplin tinggi dan menghargai kebersihan.
5. Fungsi Kesabaran: merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua, jadi harus sabar. Bagaimana kita bisa menambal buku berlubang, membersihkan kotoran binatang kecil dan tahi kutu buku dengan baik kalau kita tidak sabar. Menghilangkan noda dari bahan pustaka memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi.
6. Fungsi Sosial: pelestarian tidak bisa dikerjakan oleh seorang diri. Pustakawan harus mengikut sertakan pembaca perpustakaan untuk teta merawat bahan pustaka dan perpustakaan. Rasa pengorbanan yang tinggi harus diberikan oleh setiap orang, demi kepentingan dan keawetan bahan pustaka.
7. Fungsi Ekonomi: dengan pelestarian yang baik, bahan pustaka menjadi lebih awet. Keuanganpun hemat. Banyak aspek ekonomilain yang berhubungan dengan pelestarian bahan pustaka.
8. Fungsi Keindahan: dengan pelestarian yang baik, penataan bahan pustaka yang rapih, perpustakaan tampak menjadi makin indah, sehingga menambah daya tarik kepada pembacanya.

Rabu, 18 April 2018

Prinsip Prinsip Perpustakaan

Prinsip Prinsip Perpustakaan

Adapun Prinsip prinsip perpustakaan sebagai berikut:

1.      Perpustakaan Diciptakan oleh Masyarakat. Sejak zaman dahulu hingga sekarang tujuan perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat, karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan dari masyarakat serta tumbuh dan berkembang bersamaan dengan masyarakat. Misalnya saja perpustakaan diciptakan di suatu daerah dan dibuat untuk menyimpan semua hasil ciptaan masyarakat, tetapi juga bertugas menyebarkannya kepada masyarakat. Perpustakan diciptakan tidak hanya untuk kaum tertentu, melainkan untuk semua kalangan di lingkungan tersebut. Pada zaman dahulu perpustakaan dianggap sebagai hal yang sangat penting sehingga oleh orang-orang dahulu perpustakaan selalu ditempatkan di kuil, istana, biara, dan tempat lain yang dianggap penting. Hal ini mencerminkan perpustakaan sebagai hasil karya cipta masyarakat.

2.      Perpustakaan Dipelihara Masyarakat. Pada poin sebelumnya kita ketahui bahwa perpustakaan diciptakan oleh masyarakat, maka masyarakat pun pastilah berusaha memelihara hasil karyanya. Gangguan perputakaan banyak diperoleh dari luar perpustakaan. Pada abad-abad terdahulu, terdapat berbagai buku karangan yang dipaksa untuk dimusnahkan oleh kalangan-kalangan yang berbeda, namun masyarakat selalu berusaha untuk menyelamatkan dan mengamankannya. Dalam berbagai gejolak sosial dan revolusi, keberadaan perpustakaan selalu tidak dilupakan masyarakat. Di Indonesia semasa pendudukan Jepang, tindakan pertama bala tentara Jepang adalah mengamankan koleksi Bataviaasch Genootschap van kunsten en Wetenschap di Batavia (kini Jakarta). Koleksi ini kelak akan menjadi inti perpustakaan Republik Indonesia.


3.      Perpustakaan Dimaksudkan untuk Menyimpan dan Memancarkan Ilmu Pengetahuan. Perpustakaan didirikan tidak hanya untuk menyimpan berbagai macam pengetahuan, melainkan juga untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, berbagai perpustakaan nasional yang ada di berbagai negara telah dikunjungi jutaan pengunjung termasuk negarawan, sastrawan, ilmuwan maupun pengunjung awam lainnya.Perpustakaan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, karena itu akan berimbas pada membekunya suatu pengetahuan karena tidak dapat berkembang. Sebaliknya, jika perpustakaan juga menyebarluaskan ilmu pengetahuan, maka ilmu yang diperoleh akan terus berkembang dan akan ada kemajuan yang berkesinambungan.

4.      Perpustakaan Terbuka untuk Umum. Pada masa sebelumnya, perpustakaan yang dibangun di sebuah kuil hanya diperuntukan bagi kalangan tertentu, dan penggunaannya terbatas untuk mereka. Namun, jika prinsip itu tetap diteruskan maka tidak akan ada perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan, dan bisa saja mandek. Namun, dengan perpustakaan yang terbuka untuk umum serta memberi kesempatan yang sama bagi semua kalangan tanpa adanya perbedaan, maka perpustakaan akan menjadi pusat pengetahuan yang akan terus berkembang, serta ilmu pengetahuan di dunia akan terus tumbuh. Masyarakat akan bersyukur dengan hal tersebut karena dapat dengan mudah mendapati pengetahuan yang ingin ia gali tanpa merasakan adanya diskriminasi.


5.      Perpustakaan Merupakan Pusat Kekuatan. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Perpustakaan sebagai gudang ilmu pengetahuan, maka perpustakaan pun menjadi sumber kekuatan. Ilmu pengetahuan dapat kita peroleh dengan banyak membaca. Kegiatan membaca biasa kita lakukan di dalam perpustakaan, karena di dalamnya terdapat berbagai pengetahuan yang ada di dalam suatu bahan pustaka. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan mampu bersaing dalam kehidupan. Hal ini dikarenakan pengetahuan dapat memberikan kita banyak informasi yang mungkin tidak banyak orang ketahui. Dan kita yang mengetahui informasi tersebut dapat menjadikannya sebagai kekuatan untuk dapat bersaing di dalam kehidupan.

6.       Perpustakaan Harus Berkemban. Meskipun perpustakaan berawal dari koleksi yang terbatas, perpustakaan harus terus berkembang. Perpustakaan harus berkembang karena para pemustaka menghendaki perkembangan koleksi yang dapat mengikuti kemajuan zaman serta ilmu pengetahuan. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena perpustakaan yang tidak berkembang lama kelamaan akan ditinggalkan oleh penggunanya. Dan bukanlah suatu perpustakaan jika tidak ada orang yang memanfaatkan koleksinya.


7.      Perpustakaan Nasional Harus Berisi Semua Literatur Nasional dari Negara yang Bersangkutan Ditambah Literatur Nasional Negara Lainnya yang Berkaitan. Perpustakaan Nasional merupakan perpustakaan milik negara. Perpustakaan sebagai pusat informasi di suatu Negara pastilah harus memiliki koleksi terbitan yang lengkap. Maka dari itu perpustakaan haruslah mengumpulkan semua buku yang diterbitkan di negara yang bersangkutan. Untuk melaksanakan hal tersebut, biasanya diatur dalam UU Deposit, yaitu undang-undang yang mengatur tentang serah terima koleksi. Perpustakaan akan menyimpan setiap terbitan di negara tersebut serta memilih terbitan dari negara lain yang ada hubungannya dengan negaranya.

8.      Setiap Buku Pasti Ada Manfaatnya. Di dalam sebuah buku, sedikit atau banyak ilmu yang ada di dalamnya, pastilah ada pengetahuan yang sangat berguna yang bisa diambil oleh pembaca. Dan pengetahuan yang ada akan memberikan manfaat bagi pembaca karena setiap pembaca pastilah memerlukan berbagai macam informasi yang relatif banyak dari buku-buku bacaan. Pustakawan harus orang berpendidikan artinya perpustakaan itu harus dikelolah oleh orang yang berpengalaman dibidangnya agar perpustakaan berkembang dengan  baik. Jika    perpustakaan dikelolah oleh orang yang tidak ahli dibidangnya maka perpustakaan  pengelolaannnya tidak akan bagus dan maksimal. Jadi itu la pentingnya pustakawan yang berpendidikan.


9.      Seorang pustakawan harus seorang pendidik artinya secara tidak langsung seorang pustakawan adalah seorang pendidik contohnya seorang pustakawan mengajari pemustaka menemukan buku atau informasi dengan cepat dan tepat itu adalah contoh bahwa pustawan seorang pendidik.

10.   Di perlukan pelatihan dan pendidikan artinya seorang pustakawan memerlukan pelatihan dan pendidik formal tentang perpustakaan agar perpustakaan yang dikelolah dapat berkembang dengan baik.



11.  Menambah koleksi artinya perpustakaan harus menambah koleksi-koleksi buku agar pemustaka dapat menemukan referensi-referensi buku yang dicarinya. Jadi koleksi perpustakaan harus selalu bertambah.

12.  Disusun menurut aturan baku artinya buku yang ada diperpustakaan harus disusun menurut aturan-aturan tertentu atau aturan baku seperti DDC, berdasarkan subjek dan sebagainya agar si pemustaka mudah mencarinya .

13.  Kenyamanan Praktis Merupakan Faktor Utama yang Perlu digunakan dalam Menyusun Subjek di Perpustakaan. Jelas bahwa sebuah kenyamanan merupakan keinginan bagi pemustaka dalam mencari informasi, oleh karena itu pustakawan harus pandai mengelola tataruang maupun letak koleksi yang sesuai dengan subjek.

14.  Pepustakaan Harus Memiliki Katalog Subjek. Katalog subjek merupakan ciri-ciri dari subjek suatu buku tertentu. Hal ini agar pemustaka mudah memperoleh informasi akan buku tersebut.

15.    Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Informasi. Dalam perpustakaan tentunya banyak sekali sumber-sumber bacaan yang merupakan informasi yang sangat berguna bagi pembaca, oleh karena itulah perpustakaan dikatakan sebagai sumber informasi.


Selasa, 10 April 2018

Kerangka Tipologi





Dari kerangka di atas, kita dapat mengetahui beberapa perpustakaan yang ada sesuai dengan jenisnya masing-masing. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya berbagai jenis perpustakaan menurut buku Pengantar Ilmu Perpustakaan karya Sulistyi Basuki. Beberapa faktor – faktor tersebut adalah:
1.      Tanggapan terhadap berbagai jenis pustaka, misalnya buku, majalah, film, rekaman suara, dan sejenisnya.
2.      Tanggapan terhadap keperluan informasi berbagai kelompok pembaca.
3.      Tanggapan yang berlainan tentang spesialis subjek, termasuk ruang lingkup subjek serta rincian subjek yang bersangkutan.

Perpustakaan dapat dikelompokkan berdasarkan bahan-bahan pustakanya. Dengan berkembangnya teknologi bahan-bahan pustaka dapat berupa digital dan tidak harus berbentuk fisik seperti buku. Adapun jenis-jenis perpustakaan itu adalah:

1. Perpustakaan Internasional

Perpustakaan internasional adalah perpustakaan yang didirikan oleh 2 negara atau lebih atau perpustakaan yang merupakan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional. Contoh dari perpustakaan internasional diantaranya:
a.         New YorkPublicLibrary. Perpustakaan ini berada di New York dan berskala internasional karena perpustakaan ini telah berafiliasi dengan beberapa negara bagian Amerika lainnya.
b.        Dag Hammarskjold, New York. Ini adalah perpustakaan Internasional yang dinaungi oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nation), sebuah organisasi dunia yang anggota-anggotanya terdiri dari berbagai Negara di dunia.

2.  Perpustakaan Nasional

Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan utama milik negara. Perpustakaan nasional menyimpan berbagai macam informasi serta menyimpan bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh negara. Perpustakaan nasional di Indonesia adalah PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia).
Di dalam perpustakaan nasional bisa menyimpan tentang informasi-informasi kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, juga memudahkan untuk pemustaka yang ingin mempelajari tentang berbagai budaya yang ada di Indonesia, dengan adanya perpustakaan nasional maka kita tidak perlu jauh-jauh datang ke daerah yang ingin kita pelajari budayanya. Kita cukup duduk di perpustakaan kita sudah bisa mendapatkan informasi.
Tugas Perpustakaan Nasional adalah melaksanakan pengumpulan dan penyimpanan bahan pustaka tertulis, tercetak, dan terekam selengkapnya baik yang terbit di Indonesia maupun di luar negeri sebagai khazanah kebudayaan bangsa dalam arti yang luas seta melaksanakan pelayanannya untuk kepentingan pembangunan nasional dan kemajuan bangsa.

3.  Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum. Namanya saja Perpustakaan Umum, pasti melayani masyarakat umum, tidak ada pembatasan usia atau pembatasan khusus lainnya bagi para pemustaka yang ingin mendapatkan informasi dan bergabung menjadi anggota dari perpustakaan umum. Selain itu, perpustakaan umum juga perpustakaan yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat, serta memberikan informasi yang cepat, tepat dan juga murah bagi masyarakat.
Perpustakaan umum biasanya adalah perpustakaan yang berada di dalam suatu wilayah, seperti provinsi, kabupaten/kota, serta perpustakaan keliling dan lain sebagainya. Contoh perpustakaan umum adalah:
a.      Perpustakaan Soeman H.S., Pekanbaru
b.     Perpustakaan Grhatama Pustaka, Yogyakarta
c.      Kereta Pustaka Indonesia

4.  Perpustakaan Pribadi

Perpustakaan swasta atau perpustakaan pribadi adalah perpustakaan yang dikelola pihak swasta atau pribadi dengan tujuan melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu tertentu. Umumnya perpustakaan ini hanya menyediakan koleksi-koleksi yang populer seperti, novel, komik, majalah. Jarang atau bahkan tidak ada koleksi-koleksi ilmiah yang ditemukan di perpustrakaan pribadi, karena perpustakaan ini memiliki tujuan komersil. Contoh:
a.    Perpustakaan (SHS) Sinyo Harry Sarundajang
b.    Perpustakaan B.J. Habibie
c.    Fadli Zon Library

5.  Perpustakaan Khusus

Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang khusus didirikan oleh lembaga-lemabaga atau organisasi-organisasi tertentu. Jadi di sini perpustakaan hanya memiliki koleksi bahan pustaka yang terbatas pada kebutuhan-kebutuhan buku di mana perpustakaan itu berada. Keanggotaannya juga hanya terbatas pada anggota sebuah lembaga pendiri perpustakaan tersebut. Misalnya:
a.    Perpustakaan Bank Indonesia; perpustakaan bank hanya memiliki koleksi-koleksi tentang bahan pustaka yang ada sangkut pautnya dengan dunia perbankan.
b.    PDII (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah)-LIPI; perpustakaan yang di dalamnya memuat berbagai informasi yang bersifat ilmiah, dan terbatas hanya anggota perpustakaan dari badan LIPI tersebut yang dapat menggunakannya.
c.    Lembaga Perpustakaan Biologi dan Pertanian (BibliothecaBogoriensis); adalah perpustakaan yang mengelola bahan pustaka maupun dokumen dan informasi tentang pertanian.

6.  Perpustakaan Sekolah

Setiap sekolah bisa dipastikan memiliki perpustakaan. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang ada di setiap sekolah. Perpustakaan ini dikelola oleh sekolah, tujuannya agar memudahkan para siswa mencari bahan-bahan rujukan atau artikel untuk membantu mengerjakan tugas-tugas. Selain itu juga menunjang kegiatan belajar-mengajar di sekolah, memberikan informasi-informasi tentang sekolah yang bersangkutan.
Keanggotaannya adalah para siswa di sekolah tersebut. Koleksi-koleksi bahan pustakanya juga seputar buku-buku pelajaran pada tingkat sekolah tersebut, jarang ditemukan koleksi seperti novel dan komik, bahkan mungkin tidak ada sama sekali, karena lingkungannya memang di lingkungan sekolah. Jadi koleksinya hanya seputar buku-buku sekolah, serta buku penunjang pendidikan lainnya.
Contoh perpustakaan sekolah yang ada di Indonesia, yang merupakan perpustakaan-perpustakaan terbaik diantaranya:
a. Perpustakaan Labschool Jakarta
b. Perpustakaan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Rabu, 04 April 2018

tokoh perpustakaan nasional dan internasional

Tokoh Perpustakaan Nasional
LALA HARSANA

Lasa Harsana (Lasa Hs), dilahirkan di Boyolali pada 1 Januari 1948. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan awal beliau dapatkan dari kedua orang tuanya, dilanjutkan ke Sekolah rakyat islam mamba’ulum di Boyolali selama, selanjutnya ke Madrasah tsanawiyah al-Islam di Boyolali, dan menyelesaikan Madrasah ‘Aliyah al-Islam di Surakarta. Pendidikan berkarakter islam dan dengan menjaga konsistensi hingga saat ini beliau bersosok religius.
Pendidikan kesarjanaannya ditempuh pada program studi Bahasa Arab Fakultas Sastra dan Kebudayaan (sekarang fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1979. Kemudian beliau memperoleh pendidikan dan latihan perpustakaan di UGM tahun 1973, penataran Perpustakaan Kopertis wilayah V DIY, Program sertifikat ahli perpustakaan Fak. Sastra UI Jakarta, magang pengelolaan terbitan berkala  di UPT Perpustakaan ITB Bandung, penataran tim penilai angka kredit pustakawan Tk.  Nasional di Perpusnas RI Jakarta.  Sedangkan gelar Magister Sains Manajemen Perpustakaan dari Pascasarjana UGM  tahun 2002.

Profesi sebagai pustakawan ditekuni sejak tahun 1972 dan dikukuhkan sebagai pustakawan utama pada tahun 2007 di UPT Perpustakaan UGM unit I. Pernah bekerja di perpustakaan Fak. Teknologi Pertanian UGM (1972-Oktober 2006). Perpustakaan Akademi arsitektur YKPN (1975-1980). Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Fakultas kehutanan UGM. Institut Pertanian Yogyakarta (1983-2008). Pernah menjabat sebagai kepala bidang pelayanan perpustakaan UGM (Nov 2006- Jan.2012). Kini Kepala Perpustakaan Ubiversitas Muhammadiyah Yogyakarta.

karya dan pemikiran yang terkenal :
1.      Dikukuhkan sebagai pustakawan utama pada tahun 2007 di UPT perpustakaan UGM unit 1
2.      Aktif menulis adapun karya tulis dalam bentuk buku 45 judul, diterbitkan oleh  13 penerbit
3.      Pernah bekerja di perpustakaan akademi arsitektur YKPN


Tokoh Perpustakaan Internasional

EDWARD EVANS
G. Edward Evans merupakan seorang pensiunan aktif setelah berkarir lebih dari 50 tahun di kepustakawanan. Saat ini ia tercatat sebagai pustakawan di Harold S. Colton Memorial Library and Archives di  Museum Arizona Utara. Secara akademis, ia lulus dengan dua gelar sarjana yaitu Antropologi dan Kepustakawanan. Dia memulai karirnya sebagai mahasiswa magang di ruang cadangan Perpustakaan Universitas Minnesota dan menghabiskan waktu selama 25 tahun sebagai direktur perpustakaan. Posisi full time nya yang terakhir adalah sebagai Wakil Presiden Asosiasi Akademik untuk Sumber Ilmiah di Universitas Loyola Marimount, Los Angeles. Dia telah mengajar kursus kepustakawanan sebagai pelatih pustakawan dan menyelesaikan jenjang pendidikan di fakultas, sebagai asisten professor menjadi professor di Universitas California, Los Angeles. Pengalaman praktis Evans yaitu berada di lingkungan perpustakaan publik dan swasta. Selama karirnya, dia memegang dua beasiswa yaitu National Science Foundation dan Fulbright dan aktif dalam asosiasi perpustakaan di seluruh negara bagian dan nasional.[1] 
Sebagai lulusan Fulbright, dia juga mengajar di Universitas Islandia dan ditawarkan sebagai trainer dalam menajamen dan pengembangan koleksi pada perpustakaan sekolah di Norwegia, Denmark, Swedia dan Finlandia. Ia juga sebagai penguji eskternal manajemen untuk Departemen Pendidikan Perpustakaan di Universitas Hindia Barat.[2] Saat ini Evans telah mempublikasi buku-buku tentang topik yang berkaitan dengan perpustakaan, termasuk manajemen, pengembangan koleksi, pelayanan publik dan layanan teknis. Beberapa karya yang telah lahir dari kekritisan Evans, di antaranya yaitu:

2.        Introduction     to         Technical        Services           for       Library
3.        Bibliography of Language Arts Materials for Native North Americans (1975-1976)
4.        Introduction To Technical Services (1993)
6.        Developing Library and Information Center Collections (1995)
8.        Beyond The Basics: The Management Guide For Library And Information Professionals (2003)
10.    Leadership       Basics For      Librarians       And      Information




Jumat, 23 Maret 2018

Sejarah Perpustakaan indonesia, dunia, islam

A. Sejarah Perpustakaan Ditingkat Dunia 

Sejarah perpustakaan di dunia akan saya tuliskan disini sejauh pengetahuan saya. Silakan pembaca tuliskan dikolom komentar jika ingin menambahkan sejarah-sejarah perpustakaan yang lain.

1. Sejarah Perpustakaan di Sumeria
Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa sejarah perpustakaan berawal sekitar 5000 tahun yang lalu. Para pakar menjelaskan bahwa pada tahun 3000 SM, Bangsa Sumeria sudah memiliki perpustakaan kuil. Ketika itu kuil merupakan pusat ekonomi dan sosial masyarakat. Perpustakaan merupakan tempat untuk menyimpan arsip komersial dan administratif. 
Koleksi perpustakaan kuil bangsa sumeria terdiri dari :
Catatan transaksi perdagangan
Catatan tantang grammar
Catatan tentang matematika
Catatan tentang obat-obatan dan perbintangan
Selain perpustakaan kuil, dilaporkan juga ditemukan adanya perpustakaan pemerintah yang mempunyai koleksi berupa rekening, kontrak, daftar pajak, dan catatan perkawinan.
                       
2. Sejarah Perpustakaan di Mesir
Sejarah perpustakaan di Mesir bermula sejak tahun 2400 SM, Mesir dilaporkan juga telah memiliki perpustakaan kuil. Bagi bangsa Mesir, kuil adalah pusat keagamaan dan kebudayaan. Perpustakaan pada waktu itu adalah tempat menyimpan makanan, pendidikan, pengadilan, pusat arsip dan juga tempat belajar pengetahuan praktis, spiritual dan medis. Jadi perpustakaan mempunyai misi yang bersifat praktis dan keagamaan.
Koleksi perpustakaan Mesir adalah bahan-bahan dalam bidang :
Administratif
Magis
Astronomi
Astrologi
Medis, berupa catatan tentang obat-obatan, diagnosa, perawatan dan bedah.
Dilaporkan juga bahwa Mesir mempunyai perpustakaan istana pada masa Raja Pharaoh Ramses II di Thebes sekitar tahun 1200 – 1300 SM. Koleksinya adalah dalam bidang pemerintahan, filsafat dan keagamaan.


3. Sejarah Perpustakaan di Assiria
Bangsa Assiria mempunyai perpustakaan yang sangat maju pada masa pemerintahan Raja Ashurbanipal pada sekitar abad ke-8 SM. Raja ini menganggap perpustakaan bukan hanya sekedar tempat menyimpan arsip tetapi juga merupakan pusat sumber rujukan dan juga sarana pendidikan kaum muda. Sang raja memerintahkan untuk mengumpulkan dan menerjemahkan lempengan-lempengan tanah liat dari Sumeria dan Babilonia. Koleksinya menyangkut semua bidang termasuk kesusastraan, sejarah, kalkulasi astronomi, matematika, linguistic dan grammar, kamus, perdagangan dan hukum. Misi perpustakaan kerajaan Assiria adalah untuk pendidikan dan penelitian. 

4. Sejarah Perpustakaan di Yunani   
Misi perpustakaan negara Yunani adalah untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian. Hal ini dipengaruhi oleh semangat untuk belajar yang ada pada masyarakat Yunani terutama dengan adanya kegiatan mengajar yang dilakukan oleh filsuf-filsuf Yunani seperti Sokrates, Pluto dan Aristoteles. Keadaan seperti ini terjadi pada masa pemerintahan Aleksander Agung, yang kemudian berlangsung terus sampai masa Ptolomeus. Pada masa pemerintahan Ptolomeus II, putra Ptolomeus, Yunani melakukan pengumpulan, penerjemahan dan penyalinan terhadap berbagai literatur. 

5. Sejarah Perpustakaan di Romawi
Perkembangan perpustakaan bangsa romawi terkait erat dengan keberhasilan mereka dalam merebut wilayah sekitarnya. Setiap penaklukan diikuti dengan penjarahan harta benda. Para panglima perang juga menyita buku-buku dari daerah taklukannya, kemudian mereka menyimpannya menjadi koleksi pribadi. Kepemilikan perpustakaan pribadi dianggap dapat menaikkan martabat seseorang. Ketika itu seseorang dianggap berpendidikan apabila menguasai karya-karya Yunani dan Latin. Pada masa pemerintahannya, Yulius Caesar membuka perpustakaan Yunani dan Latin dan membukanya bagi umum. Pada masa romawi, misi perpustakaan adalah untuk kepentingan stutus sosial dan kepentingan masyarakat umum.

6. Romawi (Kristen)
Konstatin Agung adalah Kaisar Romawi yang menjadi Kristen. Pada tahun 324 memindahkan ibu kota ke Bizantium, dan diubah menjadi Konstantinopel pada tahun 330. Ia mendirikan perpustakaan kerajaan dan menekankan karya latin . Penggantinya menambahkan karya Kristen dan penyembah berhala baik latin maupun yunani serta memperkerjakan penyalin naskah. Pada abad kelima, perpustakaan konstantinopel memiliki koleksi sekitar 130.000 volume, merupakan perpustakaan terbesar di Eropa. Pada abad tersebut, didirikan Universitas Konstantinopel yang berkembang sebagai pusat pengajaran di seluruh kerajaan. Misi perpustakaan pada masa ini adalah bersifat akademis.


7. Bangsa Arab
Kejayaan Islam atau Bangsa Arab mulai pada pertengahan abad ke-7. Karena adanya penghargaan yang tinggi pada kegiatan membaca dan belajar pada kebudayaannya, perpustakaan menjadi sarana yang umum pada rumah-rumah, istana dan perguruan tinggi pada dunia islam. Spanyol memiliki 70 perpustakaan, Bagdad 36, dan berbagai kota penting di Persia mempunyai perpustakaan. 
Perpustakaan besar pertama adalah perpustakaan istana di Damaskus, yang mengoleksi bahan-bahan dari seluruh dunia dalam bidang kedokteran, filsafat, sejarah, kesusastraan. Pada abad ke-8 dan 9, Bagdad menjadi pusat kebudayaan tempat orang belajar masalah kedokteran, ilmu pengetahuan, dan filsafat.

8. Perpustakaan Pertapaan
Runtuhnya kekaisaran Romawi membawa dampak pada kemunduran perpustakaan di Eropa. Satu-satunya institusi yang dapat mempertahankan perpustakaan adalah pertapaan Kristen yang berkembang pada sekitar tahun 500. Tujuan perpustakaan pertapaan adalah sebagai (a) tempat kegiatan spiritual, mengarsip teks-teks keagamaan, dan mereproduksi teks-teks spiritual dan kadang-kadang juga teks sekuler. Salah satu contoh perpustakaan pertapaan adalah perpustakaan pertapaan benediktin di MonteCasino, Italia, didirikan pada tahun 529.

9. Perpustakaan Masa Renaisans
Setelah abad pertengahan, terjadi perubahan yang besar di Eropa dalam bidang ekonomi, sosial dan politik. Kekuasaan kaum sekuler menguat, meningkatnya orang yang melek huruf, menurunnya dominasi gereja, meluasnya perhatian terhadap ilmu pengetahuan, politik dan tradisi filosofis terutama perhatian terhadap karya-karya klasik filsuf Yunani dan Romawi merupakan gambaran keadaan sosial masa renaisans. Dalam keadaan yang demikian, muncul kembali perpustakaan-perpustakaan pribadi sepanjang sejarah , yang terkenal misalnya perpustakaan Petrarch dan Boccacio. Munculnya perpustakaan selain karena adanya ketertarikan pada usaha mempelajari hal-hal sekuler juga sebagai simbol status sosial yang tinggi kala itu.




B. Sejarah Perpustakaan Islam

Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga ummat Islam mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya. Banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik oleh umat Islam dilupakan begitu saja. Akibatnya tatanan umat Islam baik aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan aspek kehidupan yang lain mengalami stagnasi. Sehingga ahirnya umat Islam hanya menjadi umat pengikut dari bangsa maju, yang dalam hal ini adalah dunia barat. Padahal kita menyadari bahwa kemajuan dunia barat dicapai dengan melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang di ambil dari pusat-pusat ilmu pengetahuan musli seperti perpustakan.

          Dari paparan diatas menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu bangsa. Dalam hal ini banyak ilmu pengetahuan , informasi dan dokumentasi yang di sediakan perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam pemberdayaan umat. Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang di lakukan di sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak di adopsi oleh perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada. Banyak perpustakaan di ubah menjadi learningcenter atau resourcescenter. Hal ini mengidentifikasikan bahwa perpustakaan yang di perankan pada masa kejaaan Islam sangat penting dan representatif untuk pengembangan dan memajukan masyarakat.


Masa Perintisan Perpustakaan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka

         Pada masa Nabi Muammad SAW dan para sahabatnya, perpustakaan dalam pengertian di atas tidak di temukan. Tapi cikal bakal atau rintisan perpustakaan sudah ada, yaitu sebagai berikut:

1. Wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ialah perintah kepada umat Islam untuk membaca (Iqra’).

2. Rasulullah SAW mengangkat para sahabatnya, antara lain; Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Khalid bin Walid sebagai penulis Al Qur’an.

3. Perintah Rasulullah SAW kepada tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Muslim membaca dan menulis.

4. Pada masa Rasulullah SAW muncul keinginan menulis Al Qur’an dalam bentuk mushaf pribadi seperti Mushaf Ubay bin Ka’ab, Mushaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ibn Abbas dan pada ahirnya melahirkan Mushaf Utsmani yang di salin menjadi 4 Mushaf. Tetapi riwayat lain menebutkan lima salinan di sebarkan ke kota Madinah, Makkah, Kuffah, Basrah dan Damaskus. Dan Mushaf-mushaf tersebut di jadikan referensi oleh Umat Islam. Peristiwa diatas mendorong umat Islam gemar menulis dan membaca dan menulis dan semua itu merpakan semangat di dalam perpustakaan.



Masa Pembentukan dan Pembinaan Perpustakaan
    Ada beberapa hal yang melatar belakangi pembentukan dan pembinaan perpustakaan perpustakaan, di samping peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa perintisan, antara lain sebagai berikut:

1. Setelah Al Qur’an di kodifikasi dalam bentuk mushaf timbul keinginan masyarakat muslim, terutama yang hidup jauh dari masa Rasulullah SAW untuk memahami Al Qur’an dan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang di pahami dan dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Muncul keinginan dari sebagian ulama untuk membukukan sabda-sabda Rasulullah SAW, sekalipun pada awalnya mendapatkan tentangan karena berpegang kepada Hadits yang melarang penulisan bersumber dari Rasul selain Al Qur’an. Namun pada masa Umar bin Abdul Aziz (wafat 675 M) beliau dengan otoritasnya memerintah Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madani (wafat 695 M) untuk menghimpun hadits dan menulisnya dalam sebuah buku. Dia beralasan bahwa Rasulullah melarang menulis hadits karena di khawatirkan akan tercampur dengan Al Qur’an. Padahal pada waktu ia memerintahkan menulis hadits tidak ada kehawatiran tercampur dengan Al Qur’an, karena Al Qur’ansudh di kodifikasikan dalam bentuk mushaf. Kemudian hadits-hadits tersebut ditulis dan disebarluaskan ke penjuru negeri untuk di jadikan referensi.

2. Kepeloporan Ibn Syihab az-Zuhri di ikuti oleh ulama-ulma lainnya. Pada masa itu hadits menjadi primadona. Banyak ahli hadits yang rela melakukan perjalanan jauh dan melelahkan hanya demi mendapatkan sebuah hadits dan kemudian dihimpun dalam koleksi mereka masing-masing.ahirnya dikenal dengan koleksi Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Trmudzi, dan koleksi-koleksi linnya. Setiap koleksi bisa terdiri dari tiga jilid atau lebih bhkan sampai belasan jilid, sehingga menambah bahan rujukan Islam.

3. Gerakan penerjemahan yang di pelopori oleh Khalifa al-Mansur dari Daulah Abbasiyah telah membantu dalam penambahan jumlah koleksi pustaka pd waktu itu. Dia memperkejakan orang-orang Persia yang baru masuk Islam untuk menterjemahkan karya-karya berbahasa Persia dalam bidang astrolgi, ketatanegaraan dan politik, moral, seperti KalilawaDimma dan Sindhid di terjemahkankedalam bahasan Arab. Selain itu di terjemahkan dari bahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, lmagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomashus, Geometri karyEuclid. Gerakan penterjemahan dilanjutkan khalifah berikutnya, yaitu al-Al Makmun. Ia membayar mahal hasil penterjemahan.

            Bahan pustaka yang cukup banyak tadi berupa mushaf Al Qur’anmaunhadits dan karya-karya terjemahan mendorong penguasa pada waktu itu ntuk mendirikan perpustakaan. Perpustakaan yang resmi berdiri pertama kali ntuk publik adalah Baitul Hikmah. Perpustakaan itu bukan saja berfungsi sebagai tempat penyumpanan buku, tetapi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun al-Rasyid intitusiperpustkaan bernama Khizanahal Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.Sejak tahun 815M, al-Makmun mengembangkan Lembga itu dengan mengubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa itu Bait al-Hikmh di gunakan secara lebih maju, yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia, Bizantium, Etiopia, dan India. Direktur perpustakaanya adalah seorang nasionalis persia dan ahli Pahlevi, yaitu Sahlibn Harun. Pada masa al-Makmun, Bait al-Hikmah ditingkatkan lagi fungsinya menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.


Untuk mengetahui perpustakaan pada waktu itu kita tinjau sekilas berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai berikut;

   1. Perpustakaan Umum

         Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan di masjid–masjid agar orang–orang yang belajar di masjid dan pengunjung dapat membaca buku–buku yang mereka perlukan. Kadang – kadang perpustakaan didirikan di masjid dengan maksud agar lembaga pendidikan dapat menampung pelajar–pelajar yang dating untuk mencari ilmu pengetahuan.

Perpustakaan umum sangat banyak jumlahnya, barang kali untuk menemukan suatu masjid atau sekolah–sekolah yang tidak memiliki perpustakaan dengan koleksinya yang siap di tela’ah dan muraja’ah bagi pelajar dan peneliti yang sedang mengadakan penelitian. Yang termasuk perpustakaan umum adalah sebagai berikut :

a. Baitul Hikmah

b. Al-Haidariyah di An-Najaf

c. Ibnu Sawwar di Basrah

d. Sabur

e. Darul Hikamah di Kairo

f. Perpustakaan-perpustakaan sekolah

   2. Perpustakaan Semi Umum

         Perpustakaan semi umum didirikan oleh para khalifah dan raja–raja untuk mendekatn diri kepada ilmu pengetahuan. Adupan perpustakaan semi umum antara lain;

a. Perpustakaan An-Nashir Li Dinillah

b. Perpustakaan Al-Muzta’sim Billah

c. Perpustakaan Khalifah–Khalifah Fathimiyah

    3. Perpustakaan Pribadi

         Perpustakaan ini didirikan oleh ulama–ulama dan para sastrawan, khusus untuk kepentingan mereka sendiri. Perpustakaan ini sangat banyak karena hampir semua ulama dan sastrawan memiliki perpustakaan untuk menjadi sumber dan referensi bagi pembahsan dan penelitian mereka. Perpustakaan jenis ini antara lain;

a. Perpustakaan Al-Fathu Ibnu Haqam

b. Perpustakaan hunain Ibnu Ishaq

c. Perpustakaan Ibnul Harsyab

d. Perpustakaan Al Muwaffaq Ibnul Mathran

e. Perpustakaan Al-Mubasysir Ibnu Fatik

f. Perpustakaan Jamaluddin Al Qifthi


Peranan Perpustakaan pada Peradaban Islam

         Perpustakaan pada awal kejayaan Islam menunukkan perannya dalam mennjang pendidikan umat. Perpustakaan yang di kelola oleh orang-orang Islam tidak hanya memperhtikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan, seperti msalah ibadah dan teologi, tapi juga mengelola disiplin ilmu yang lain seperti kedokteran, sosial, politik dan sebagainya. Berbagai peran perpustakaan pada masa peradaban Islam yaitu;


1.  Pusat Belajar (Learning Center)
         Setelah masa Khulafaur-Rasyidin, peradaban Islam berkembang dengan pesat. Perkembngan itu antara lain adalah proses pendidikan tertama pada masa Umaiyah dan Abbasiyah. Pada masa ini gairah dan apresiasi umat pada perpustakaan sangat tinggi. Mereka membangun perpustakaan, baik umum, khusus maupun perpustakaan pribadi. Sehingga tidak heran banyak masjid dan sekolah memiliki perpustakaan. Mereka menganggap bahwa perpustakaan sama pentingnya dalam membangun ilmu pengetahuan. Bahkan fungsi perpustakaan kadang-kadang tidak dapat di bedakan dengan fungsi lembaga pendidikan karena sama-sma memberikan smbangan dalam pengajaran kepada umat.

  2.  Pusat Penelitian

         Sesungguhnya peran penelitian yang dilakukan oleh perpustakaan pada masa awal Islam sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa, misalnya utusan khalifah-khalifah atau raja-raja untuk membahas suatu bidang ilmu tertentu di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah. Disamping itu, para peneliti dan cendekiawan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan keahliannya. Banyak di antara mereka yang melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan penemuan-penemuan baru. Tentu saja aktivitas semacam ini tidak pernah terhenti sampai sekarang dan begitu pula pada masa datang selama perpustakaan menjalankan fungsinya sebagai sumber informasi.

   3.  Pusat Penerjemahan

         Suatu hal yang amat menarik adalah di mana perpustakaan pada masa itu menjadi jembatan dari kebudayaan. Misalnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat. Dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan tersebut. Aktivitas semacam ini telah mendapatkan respon positif sehingga para penerjemah memperoleh status yang baik dalam masyarakat. Situasi ini mulai pada saat didirikannya perpustakaan yang pertama dalam dunia Islam. Menurut Kurd Ali, orang yang pertama kali menekuni bidang ini ialah Chalid Ibnu Jazid (meninggal tahun 656 M). Di lain sumber dikatakan bahwa Ibnu Jazid telah mencurahkan perhatiannya terhadap buku lama, terutama dalam ilmu kimia, kedokteran dan ilmu bintang.

4. Pusat Penyalinan
         Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin yaitu sejak dari abad pertengahan telah dirasakan pentingnya bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu perpustakaan. Oleh karena itu alat-alat percetakan sebagaimana yang kita lihat di abad modern ini belum ada di masa itu, maka untuk mengatasi hal ini mereka adakan seleksi penyalinan pada tiap-tiap perpustakaan. Penyalinan buku itu diselenggarakan oleh penyalin-penyalin yang terkenal kerapihan kerja dan tulisannya

Masa Kemunduran dan Kehancuran Perpustakaan
         Kemunduran dan kehancuran perpustakaan di era peradaban Islam mengikuti kejatuhan wilayah-wilayah muslim setelah pertarungan fisik melawan musuh-musuhnya. Misalnya perpustakaan di Tripoli di hancurkan oleh tentara perang Salib atas komando seorang rahib yang tak senang saat melihat banyak Al Qur’an di perpustakaan tersebut. Di samping itu perpustakaan terkenal lainya, seperti milik Sultan Nuh Ibn Mansur yang dibakar setelah filosuf besarnya menyelesaikan penelitiannya di tempat itu. Kenyataan itu menimbulkan tuduhan bahwa cendikiawan sendiri yang membakar perpustakaan setelah menguasai isi keilmuan yang terkandung dalam perpustakaan tersebut. Peristiwa lainya terjadi pada tahun 1258M ketika sekelompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Baghdad dan membakar perpustakaanya.

         Demikianlah umat Islam berkembang dengan pesat pada awalnya seiring dengan perkembangan perpustakaan dan mundurnya umat Islam bersamaan dengan mundurnya perpustakaan. Dengan demikian cara untuk memajukan peradaban umat Islam adalah salah satunya dengan memajukan perpustakaan yaitu dengan membina perpustakaan dan meningkatkan kesadaran umat Islam akan pentingnya ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya.






C. Sejarah Perpustakaan Di Indonesia

Perpusatakaan merupakan tempat yang menyimpan beraneka ragam informasi, memiliki koleksi informasi yang beragam mulai dari buku, video, document dan lain sebagainya yang bisa kita nikmati informasinya baik secara langsung di perpustakaan itu sendiri ataupun kita bisa meminjamnya dan menikmatinya dirumah sesuai ketentuan yang berlaku.Karena perpustakaan pada umumnya dikelola oleh sebuah lembaga dan disediakan untuk siapa saja, maka dari itu di setiap perpustakaan menetapkan peraturan agar supaya koleksi dari perpustakaan tersebut jika dipinjam masih bisa tetap dipertanggung jawabkan. Saat ini di Indonesia kita dengan mudah menemukan perpustakaan misalnya disekolah-sekolah, kampus, atau pun di perpustakaan nasional. Dalam sejarah perpustakaan di Indonesia ternyata sudah ada sejak masa lampau yaitu masa-masa kerajaan, masa hindia belanda, masa penjajahan jepang dan masa kemerdekaan hingga sampai sekarang. Berikut adalah sejarah perpustakaan Indonesia.

Masa kerajaan
Sebenarnya tidak ada bukti atau catatan khusus mengenai perpustakaan di zaman kerajaan kuno. Namun banyak yang berasumsi bahwa di masa kerajaan telah terdapat semacam tempat untuk menyimpan dan mengoleksi buku, catatan, atau apapun yang dianggap sebagai informasi pada zaman tersebut.

Masa Hindia-Belanda
         Di zaman ini mulai muncul perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Contohnya adalah sebagai berikut:
1. Perpustakaan di gereja yang ada di Batavia (1624), diduga adalah perpustakaan tertua yang tercatat di sejarah Indonesia.
2. Perpustakaan Batavia (sekarang Museum Nasional RI) yang berdiri tahun 1778.
3. Perpustakaan di sekolah-sekolah, misalnya di Stovia.
4. Perpustakaan di Kraton Mangkunegoro yang menyediakan naskah atau catatan kuno dan hanya bisa dibaca di tempat (tidak boleh dipinjam)

Masa penjajahan Jepang
         Di zaman ini, hampir seluruh perpustakaan yang ada di Indonesia ditutup oleh Jepang, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah.

Masa kemerdekaan-sekarang
Pemerintah Indonesia mendirikan berbagai perpustakaan, termasuk taman baca yang dimaksudkan untuk mencerdaskan rakyat Indonesia.
1. Taman Perpustakaan Rakyat dibuat pemerintah sekitar tahun 1950-an.
2. Pada tahun 1980-an, berdiri Perpustakaan Nasional RI yang juga mengelola Museum Nasional RI. Dengan perkembangan teknologi, sampai saat ini perpustakaan di Indonesia pun mengalami kemajuan dalam pengelolaannya.

Manfaat Perpustakaan

Berikut ini adalah manfaat utama dari didirikannya perpustakaan.
1. Dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Hal ini tentu saja harus ditunjang dengan koleksi informasi yang lengkap, mulai dari buku maupun informasi digital.

2. Karena perpustakaan adalah tempat yang penuh dengan informasi, maka perpustakaan bisa memberi wawasan yang sangat luas untuk masyarakat. Hal ini membuat perpustakaan juga berperan aktif dalam usaha peningkatan kecerdasan bangsa.