Rabu, 18 April 2018

Prinsip Prinsip Perpustakaan

Prinsip Prinsip Perpustakaan

Adapun Prinsip prinsip perpustakaan sebagai berikut:

1.      Perpustakaan Diciptakan oleh Masyarakat. Sejak zaman dahulu hingga sekarang tujuan perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat, karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan dari masyarakat serta tumbuh dan berkembang bersamaan dengan masyarakat. Misalnya saja perpustakaan diciptakan di suatu daerah dan dibuat untuk menyimpan semua hasil ciptaan masyarakat, tetapi juga bertugas menyebarkannya kepada masyarakat. Perpustakan diciptakan tidak hanya untuk kaum tertentu, melainkan untuk semua kalangan di lingkungan tersebut. Pada zaman dahulu perpustakaan dianggap sebagai hal yang sangat penting sehingga oleh orang-orang dahulu perpustakaan selalu ditempatkan di kuil, istana, biara, dan tempat lain yang dianggap penting. Hal ini mencerminkan perpustakaan sebagai hasil karya cipta masyarakat.

2.      Perpustakaan Dipelihara Masyarakat. Pada poin sebelumnya kita ketahui bahwa perpustakaan diciptakan oleh masyarakat, maka masyarakat pun pastilah berusaha memelihara hasil karyanya. Gangguan perputakaan banyak diperoleh dari luar perpustakaan. Pada abad-abad terdahulu, terdapat berbagai buku karangan yang dipaksa untuk dimusnahkan oleh kalangan-kalangan yang berbeda, namun masyarakat selalu berusaha untuk menyelamatkan dan mengamankannya. Dalam berbagai gejolak sosial dan revolusi, keberadaan perpustakaan selalu tidak dilupakan masyarakat. Di Indonesia semasa pendudukan Jepang, tindakan pertama bala tentara Jepang adalah mengamankan koleksi Bataviaasch Genootschap van kunsten en Wetenschap di Batavia (kini Jakarta). Koleksi ini kelak akan menjadi inti perpustakaan Republik Indonesia.


3.      Perpustakaan Dimaksudkan untuk Menyimpan dan Memancarkan Ilmu Pengetahuan. Perpustakaan didirikan tidak hanya untuk menyimpan berbagai macam pengetahuan, melainkan juga untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, berbagai perpustakaan nasional yang ada di berbagai negara telah dikunjungi jutaan pengunjung termasuk negarawan, sastrawan, ilmuwan maupun pengunjung awam lainnya.Perpustakaan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, karena itu akan berimbas pada membekunya suatu pengetahuan karena tidak dapat berkembang. Sebaliknya, jika perpustakaan juga menyebarluaskan ilmu pengetahuan, maka ilmu yang diperoleh akan terus berkembang dan akan ada kemajuan yang berkesinambungan.

4.      Perpustakaan Terbuka untuk Umum. Pada masa sebelumnya, perpustakaan yang dibangun di sebuah kuil hanya diperuntukan bagi kalangan tertentu, dan penggunaannya terbatas untuk mereka. Namun, jika prinsip itu tetap diteruskan maka tidak akan ada perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan, dan bisa saja mandek. Namun, dengan perpustakaan yang terbuka untuk umum serta memberi kesempatan yang sama bagi semua kalangan tanpa adanya perbedaan, maka perpustakaan akan menjadi pusat pengetahuan yang akan terus berkembang, serta ilmu pengetahuan di dunia akan terus tumbuh. Masyarakat akan bersyukur dengan hal tersebut karena dapat dengan mudah mendapati pengetahuan yang ingin ia gali tanpa merasakan adanya diskriminasi.


5.      Perpustakaan Merupakan Pusat Kekuatan. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Perpustakaan sebagai gudang ilmu pengetahuan, maka perpustakaan pun menjadi sumber kekuatan. Ilmu pengetahuan dapat kita peroleh dengan banyak membaca. Kegiatan membaca biasa kita lakukan di dalam perpustakaan, karena di dalamnya terdapat berbagai pengetahuan yang ada di dalam suatu bahan pustaka. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan mampu bersaing dalam kehidupan. Hal ini dikarenakan pengetahuan dapat memberikan kita banyak informasi yang mungkin tidak banyak orang ketahui. Dan kita yang mengetahui informasi tersebut dapat menjadikannya sebagai kekuatan untuk dapat bersaing di dalam kehidupan.

6.       Perpustakaan Harus Berkemban. Meskipun perpustakaan berawal dari koleksi yang terbatas, perpustakaan harus terus berkembang. Perpustakaan harus berkembang karena para pemustaka menghendaki perkembangan koleksi yang dapat mengikuti kemajuan zaman serta ilmu pengetahuan. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena perpustakaan yang tidak berkembang lama kelamaan akan ditinggalkan oleh penggunanya. Dan bukanlah suatu perpustakaan jika tidak ada orang yang memanfaatkan koleksinya.


7.      Perpustakaan Nasional Harus Berisi Semua Literatur Nasional dari Negara yang Bersangkutan Ditambah Literatur Nasional Negara Lainnya yang Berkaitan. Perpustakaan Nasional merupakan perpustakaan milik negara. Perpustakaan sebagai pusat informasi di suatu Negara pastilah harus memiliki koleksi terbitan yang lengkap. Maka dari itu perpustakaan haruslah mengumpulkan semua buku yang diterbitkan di negara yang bersangkutan. Untuk melaksanakan hal tersebut, biasanya diatur dalam UU Deposit, yaitu undang-undang yang mengatur tentang serah terima koleksi. Perpustakaan akan menyimpan setiap terbitan di negara tersebut serta memilih terbitan dari negara lain yang ada hubungannya dengan negaranya.

8.      Setiap Buku Pasti Ada Manfaatnya. Di dalam sebuah buku, sedikit atau banyak ilmu yang ada di dalamnya, pastilah ada pengetahuan yang sangat berguna yang bisa diambil oleh pembaca. Dan pengetahuan yang ada akan memberikan manfaat bagi pembaca karena setiap pembaca pastilah memerlukan berbagai macam informasi yang relatif banyak dari buku-buku bacaan. Pustakawan harus orang berpendidikan artinya perpustakaan itu harus dikelolah oleh orang yang berpengalaman dibidangnya agar perpustakaan berkembang dengan  baik. Jika    perpustakaan dikelolah oleh orang yang tidak ahli dibidangnya maka perpustakaan  pengelolaannnya tidak akan bagus dan maksimal. Jadi itu la pentingnya pustakawan yang berpendidikan.


9.      Seorang pustakawan harus seorang pendidik artinya secara tidak langsung seorang pustakawan adalah seorang pendidik contohnya seorang pustakawan mengajari pemustaka menemukan buku atau informasi dengan cepat dan tepat itu adalah contoh bahwa pustawan seorang pendidik.

10.   Di perlukan pelatihan dan pendidikan artinya seorang pustakawan memerlukan pelatihan dan pendidik formal tentang perpustakaan agar perpustakaan yang dikelolah dapat berkembang dengan baik.



11.  Menambah koleksi artinya perpustakaan harus menambah koleksi-koleksi buku agar pemustaka dapat menemukan referensi-referensi buku yang dicarinya. Jadi koleksi perpustakaan harus selalu bertambah.

12.  Disusun menurut aturan baku artinya buku yang ada diperpustakaan harus disusun menurut aturan-aturan tertentu atau aturan baku seperti DDC, berdasarkan subjek dan sebagainya agar si pemustaka mudah mencarinya .

13.  Kenyamanan Praktis Merupakan Faktor Utama yang Perlu digunakan dalam Menyusun Subjek di Perpustakaan. Jelas bahwa sebuah kenyamanan merupakan keinginan bagi pemustaka dalam mencari informasi, oleh karena itu pustakawan harus pandai mengelola tataruang maupun letak koleksi yang sesuai dengan subjek.

14.  Pepustakaan Harus Memiliki Katalog Subjek. Katalog subjek merupakan ciri-ciri dari subjek suatu buku tertentu. Hal ini agar pemustaka mudah memperoleh informasi akan buku tersebut.

15.    Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Informasi. Dalam perpustakaan tentunya banyak sekali sumber-sumber bacaan yang merupakan informasi yang sangat berguna bagi pembaca, oleh karena itulah perpustakaan dikatakan sebagai sumber informasi.


Selasa, 10 April 2018

Kerangka Tipologi





Dari kerangka di atas, kita dapat mengetahui beberapa perpustakaan yang ada sesuai dengan jenisnya masing-masing. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya berbagai jenis perpustakaan menurut buku Pengantar Ilmu Perpustakaan karya Sulistyi Basuki. Beberapa faktor – faktor tersebut adalah:
1.      Tanggapan terhadap berbagai jenis pustaka, misalnya buku, majalah, film, rekaman suara, dan sejenisnya.
2.      Tanggapan terhadap keperluan informasi berbagai kelompok pembaca.
3.      Tanggapan yang berlainan tentang spesialis subjek, termasuk ruang lingkup subjek serta rincian subjek yang bersangkutan.

Perpustakaan dapat dikelompokkan berdasarkan bahan-bahan pustakanya. Dengan berkembangnya teknologi bahan-bahan pustaka dapat berupa digital dan tidak harus berbentuk fisik seperti buku. Adapun jenis-jenis perpustakaan itu adalah:

1. Perpustakaan Internasional

Perpustakaan internasional adalah perpustakaan yang didirikan oleh 2 negara atau lebih atau perpustakaan yang merupakan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional. Contoh dari perpustakaan internasional diantaranya:
a.         New YorkPublicLibrary. Perpustakaan ini berada di New York dan berskala internasional karena perpustakaan ini telah berafiliasi dengan beberapa negara bagian Amerika lainnya.
b.        Dag Hammarskjold, New York. Ini adalah perpustakaan Internasional yang dinaungi oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nation), sebuah organisasi dunia yang anggota-anggotanya terdiri dari berbagai Negara di dunia.

2.  Perpustakaan Nasional

Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan utama milik negara. Perpustakaan nasional menyimpan berbagai macam informasi serta menyimpan bahan-bahan pustaka yang dimiliki oleh negara. Perpustakaan nasional di Indonesia adalah PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia).
Di dalam perpustakaan nasional bisa menyimpan tentang informasi-informasi kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, juga memudahkan untuk pemustaka yang ingin mempelajari tentang berbagai budaya yang ada di Indonesia, dengan adanya perpustakaan nasional maka kita tidak perlu jauh-jauh datang ke daerah yang ingin kita pelajari budayanya. Kita cukup duduk di perpustakaan kita sudah bisa mendapatkan informasi.
Tugas Perpustakaan Nasional adalah melaksanakan pengumpulan dan penyimpanan bahan pustaka tertulis, tercetak, dan terekam selengkapnya baik yang terbit di Indonesia maupun di luar negeri sebagai khazanah kebudayaan bangsa dalam arti yang luas seta melaksanakan pelayanannya untuk kepentingan pembangunan nasional dan kemajuan bangsa.

3.  Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum. Namanya saja Perpustakaan Umum, pasti melayani masyarakat umum, tidak ada pembatasan usia atau pembatasan khusus lainnya bagi para pemustaka yang ingin mendapatkan informasi dan bergabung menjadi anggota dari perpustakaan umum. Selain itu, perpustakaan umum juga perpustakaan yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat, serta memberikan informasi yang cepat, tepat dan juga murah bagi masyarakat.
Perpustakaan umum biasanya adalah perpustakaan yang berada di dalam suatu wilayah, seperti provinsi, kabupaten/kota, serta perpustakaan keliling dan lain sebagainya. Contoh perpustakaan umum adalah:
a.      Perpustakaan Soeman H.S., Pekanbaru
b.     Perpustakaan Grhatama Pustaka, Yogyakarta
c.      Kereta Pustaka Indonesia

4.  Perpustakaan Pribadi

Perpustakaan swasta atau perpustakaan pribadi adalah perpustakaan yang dikelola pihak swasta atau pribadi dengan tujuan melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu tertentu. Umumnya perpustakaan ini hanya menyediakan koleksi-koleksi yang populer seperti, novel, komik, majalah. Jarang atau bahkan tidak ada koleksi-koleksi ilmiah yang ditemukan di perpustrakaan pribadi, karena perpustakaan ini memiliki tujuan komersil. Contoh:
a.    Perpustakaan (SHS) Sinyo Harry Sarundajang
b.    Perpustakaan B.J. Habibie
c.    Fadli Zon Library

5.  Perpustakaan Khusus

Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang khusus didirikan oleh lembaga-lemabaga atau organisasi-organisasi tertentu. Jadi di sini perpustakaan hanya memiliki koleksi bahan pustaka yang terbatas pada kebutuhan-kebutuhan buku di mana perpustakaan itu berada. Keanggotaannya juga hanya terbatas pada anggota sebuah lembaga pendiri perpustakaan tersebut. Misalnya:
a.    Perpustakaan Bank Indonesia; perpustakaan bank hanya memiliki koleksi-koleksi tentang bahan pustaka yang ada sangkut pautnya dengan dunia perbankan.
b.    PDII (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah)-LIPI; perpustakaan yang di dalamnya memuat berbagai informasi yang bersifat ilmiah, dan terbatas hanya anggota perpustakaan dari badan LIPI tersebut yang dapat menggunakannya.
c.    Lembaga Perpustakaan Biologi dan Pertanian (BibliothecaBogoriensis); adalah perpustakaan yang mengelola bahan pustaka maupun dokumen dan informasi tentang pertanian.

6.  Perpustakaan Sekolah

Setiap sekolah bisa dipastikan memiliki perpustakaan. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang ada di setiap sekolah. Perpustakaan ini dikelola oleh sekolah, tujuannya agar memudahkan para siswa mencari bahan-bahan rujukan atau artikel untuk membantu mengerjakan tugas-tugas. Selain itu juga menunjang kegiatan belajar-mengajar di sekolah, memberikan informasi-informasi tentang sekolah yang bersangkutan.
Keanggotaannya adalah para siswa di sekolah tersebut. Koleksi-koleksi bahan pustakanya juga seputar buku-buku pelajaran pada tingkat sekolah tersebut, jarang ditemukan koleksi seperti novel dan komik, bahkan mungkin tidak ada sama sekali, karena lingkungannya memang di lingkungan sekolah. Jadi koleksinya hanya seputar buku-buku sekolah, serta buku penunjang pendidikan lainnya.
Contoh perpustakaan sekolah yang ada di Indonesia, yang merupakan perpustakaan-perpustakaan terbaik diantaranya:
a. Perpustakaan Labschool Jakarta
b. Perpustakaan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Rabu, 04 April 2018

tokoh perpustakaan nasional dan internasional

Tokoh Perpustakaan Nasional
LALA HARSANA

Lasa Harsana (Lasa Hs), dilahirkan di Boyolali pada 1 Januari 1948. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan awal beliau dapatkan dari kedua orang tuanya, dilanjutkan ke Sekolah rakyat islam mamba’ulum di Boyolali selama, selanjutnya ke Madrasah tsanawiyah al-Islam di Boyolali, dan menyelesaikan Madrasah ‘Aliyah al-Islam di Surakarta. Pendidikan berkarakter islam dan dengan menjaga konsistensi hingga saat ini beliau bersosok religius.
Pendidikan kesarjanaannya ditempuh pada program studi Bahasa Arab Fakultas Sastra dan Kebudayaan (sekarang fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1979. Kemudian beliau memperoleh pendidikan dan latihan perpustakaan di UGM tahun 1973, penataran Perpustakaan Kopertis wilayah V DIY, Program sertifikat ahli perpustakaan Fak. Sastra UI Jakarta, magang pengelolaan terbitan berkala  di UPT Perpustakaan ITB Bandung, penataran tim penilai angka kredit pustakawan Tk.  Nasional di Perpusnas RI Jakarta.  Sedangkan gelar Magister Sains Manajemen Perpustakaan dari Pascasarjana UGM  tahun 2002.

Profesi sebagai pustakawan ditekuni sejak tahun 1972 dan dikukuhkan sebagai pustakawan utama pada tahun 2007 di UPT Perpustakaan UGM unit I. Pernah bekerja di perpustakaan Fak. Teknologi Pertanian UGM (1972-Oktober 2006). Perpustakaan Akademi arsitektur YKPN (1975-1980). Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Fakultas kehutanan UGM. Institut Pertanian Yogyakarta (1983-2008). Pernah menjabat sebagai kepala bidang pelayanan perpustakaan UGM (Nov 2006- Jan.2012). Kini Kepala Perpustakaan Ubiversitas Muhammadiyah Yogyakarta.

karya dan pemikiran yang terkenal :
1.      Dikukuhkan sebagai pustakawan utama pada tahun 2007 di UPT perpustakaan UGM unit 1
2.      Aktif menulis adapun karya tulis dalam bentuk buku 45 judul, diterbitkan oleh  13 penerbit
3.      Pernah bekerja di perpustakaan akademi arsitektur YKPN


Tokoh Perpustakaan Internasional

EDWARD EVANS
G. Edward Evans merupakan seorang pensiunan aktif setelah berkarir lebih dari 50 tahun di kepustakawanan. Saat ini ia tercatat sebagai pustakawan di Harold S. Colton Memorial Library and Archives di  Museum Arizona Utara. Secara akademis, ia lulus dengan dua gelar sarjana yaitu Antropologi dan Kepustakawanan. Dia memulai karirnya sebagai mahasiswa magang di ruang cadangan Perpustakaan Universitas Minnesota dan menghabiskan waktu selama 25 tahun sebagai direktur perpustakaan. Posisi full time nya yang terakhir adalah sebagai Wakil Presiden Asosiasi Akademik untuk Sumber Ilmiah di Universitas Loyola Marimount, Los Angeles. Dia telah mengajar kursus kepustakawanan sebagai pelatih pustakawan dan menyelesaikan jenjang pendidikan di fakultas, sebagai asisten professor menjadi professor di Universitas California, Los Angeles. Pengalaman praktis Evans yaitu berada di lingkungan perpustakaan publik dan swasta. Selama karirnya, dia memegang dua beasiswa yaitu National Science Foundation dan Fulbright dan aktif dalam asosiasi perpustakaan di seluruh negara bagian dan nasional.[1] 
Sebagai lulusan Fulbright, dia juga mengajar di Universitas Islandia dan ditawarkan sebagai trainer dalam menajamen dan pengembangan koleksi pada perpustakaan sekolah di Norwegia, Denmark, Swedia dan Finlandia. Ia juga sebagai penguji eskternal manajemen untuk Departemen Pendidikan Perpustakaan di Universitas Hindia Barat.[2] Saat ini Evans telah mempublikasi buku-buku tentang topik yang berkaitan dengan perpustakaan, termasuk manajemen, pengembangan koleksi, pelayanan publik dan layanan teknis. Beberapa karya yang telah lahir dari kekritisan Evans, di antaranya yaitu:

2.        Introduction     to         Technical        Services           for       Library
3.        Bibliography of Language Arts Materials for Native North Americans (1975-1976)
4.        Introduction To Technical Services (1993)
6.        Developing Library and Information Center Collections (1995)
8.        Beyond The Basics: The Management Guide For Library And Information Professionals (2003)
10.    Leadership       Basics For      Librarians       And      Information