A. Sejarah Perpustakaan Ditingkat Dunia
Sejarah perpustakaan di dunia akan saya tuliskan disini sejauh pengetahuan saya. Silakan pembaca tuliskan dikolom komentar jika ingin menambahkan sejarah-sejarah perpustakaan yang lain.
1. Sejarah Perpustakaan di Sumeria
Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa sejarah perpustakaan berawal sekitar 5000 tahun yang lalu. Para pakar menjelaskan bahwa pada tahun 3000 SM, Bangsa Sumeria sudah memiliki perpustakaan kuil. Ketika itu kuil merupakan pusat ekonomi dan sosial masyarakat. Perpustakaan merupakan tempat untuk menyimpan arsip komersial dan administratif.
Koleksi perpustakaan kuil bangsa sumeria terdiri dari :
Catatan transaksi perdagangan
Catatan tantang grammar
Catatan tentang matematika
Catatan tentang obat-obatan dan perbintangan
Selain perpustakaan kuil, dilaporkan juga ditemukan adanya perpustakaan pemerintah yang mempunyai koleksi berupa rekening, kontrak, daftar pajak, dan catatan perkawinan.
2. Sejarah Perpustakaan di Mesir
Sejarah perpustakaan di Mesir bermula sejak tahun 2400 SM, Mesir dilaporkan juga telah memiliki perpustakaan kuil. Bagi bangsa Mesir, kuil adalah pusat keagamaan dan kebudayaan. Perpustakaan pada waktu itu adalah tempat menyimpan makanan, pendidikan, pengadilan, pusat arsip dan juga tempat belajar pengetahuan praktis, spiritual dan medis. Jadi perpustakaan mempunyai misi yang bersifat praktis dan keagamaan.
Koleksi perpustakaan Mesir adalah bahan-bahan dalam bidang :
Administratif
Magis
Astronomi
Astrologi
Medis, berupa catatan tentang obat-obatan, diagnosa, perawatan dan bedah.
Dilaporkan juga bahwa Mesir mempunyai perpustakaan istana pada masa Raja Pharaoh Ramses II di Thebes sekitar tahun 1200 – 1300 SM. Koleksinya adalah dalam bidang pemerintahan, filsafat dan keagamaan.
3. Sejarah Perpustakaan di Assiria
Bangsa Assiria mempunyai perpustakaan yang sangat maju pada masa pemerintahan Raja Ashurbanipal pada sekitar abad ke-8 SM. Raja ini menganggap perpustakaan bukan hanya sekedar tempat menyimpan arsip tetapi juga merupakan pusat sumber rujukan dan juga sarana pendidikan kaum muda. Sang raja memerintahkan untuk mengumpulkan dan menerjemahkan lempengan-lempengan tanah liat dari Sumeria dan Babilonia. Koleksinya menyangkut semua bidang termasuk kesusastraan, sejarah, kalkulasi astronomi, matematika, linguistic dan grammar, kamus, perdagangan dan hukum. Misi perpustakaan kerajaan Assiria adalah untuk pendidikan dan penelitian.
4. Sejarah Perpustakaan di Yunani
Misi perpustakaan negara Yunani adalah untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian. Hal ini dipengaruhi oleh semangat untuk belajar yang ada pada masyarakat Yunani terutama dengan adanya kegiatan mengajar yang dilakukan oleh filsuf-filsuf Yunani seperti Sokrates, Pluto dan Aristoteles. Keadaan seperti ini terjadi pada masa pemerintahan Aleksander Agung, yang kemudian berlangsung terus sampai masa Ptolomeus. Pada masa pemerintahan Ptolomeus II, putra Ptolomeus, Yunani melakukan pengumpulan, penerjemahan dan penyalinan terhadap berbagai literatur.
5. Sejarah Perpustakaan di Romawi
Perkembangan perpustakaan bangsa romawi terkait erat dengan keberhasilan mereka dalam merebut wilayah sekitarnya. Setiap penaklukan diikuti dengan penjarahan harta benda. Para panglima perang juga menyita buku-buku dari daerah taklukannya, kemudian mereka menyimpannya menjadi koleksi pribadi. Kepemilikan perpustakaan pribadi dianggap dapat menaikkan martabat seseorang. Ketika itu seseorang dianggap berpendidikan apabila menguasai karya-karya Yunani dan Latin. Pada masa pemerintahannya, Yulius Caesar membuka perpustakaan Yunani dan Latin dan membukanya bagi umum. Pada masa romawi, misi perpustakaan adalah untuk kepentingan stutus sosial dan kepentingan masyarakat umum.
6. Romawi (Kristen)
Konstatin Agung adalah Kaisar Romawi yang menjadi Kristen. Pada tahun 324 memindahkan ibu kota ke Bizantium, dan diubah menjadi Konstantinopel pada tahun 330. Ia mendirikan perpustakaan kerajaan dan menekankan karya latin . Penggantinya menambahkan karya Kristen dan penyembah berhala baik latin maupun yunani serta memperkerjakan penyalin naskah. Pada abad kelima, perpustakaan konstantinopel memiliki koleksi sekitar 130.000 volume, merupakan perpustakaan terbesar di Eropa. Pada abad tersebut, didirikan Universitas Konstantinopel yang berkembang sebagai pusat pengajaran di seluruh kerajaan. Misi perpustakaan pada masa ini adalah bersifat akademis.
7. Bangsa Arab
Kejayaan Islam atau Bangsa Arab mulai pada pertengahan abad ke-7. Karena adanya penghargaan yang tinggi pada kegiatan membaca dan belajar pada kebudayaannya, perpustakaan menjadi sarana yang umum pada rumah-rumah, istana dan perguruan tinggi pada dunia islam. Spanyol memiliki 70 perpustakaan, Bagdad 36, dan berbagai kota penting di Persia mempunyai perpustakaan.
Perpustakaan besar pertama adalah perpustakaan istana di Damaskus, yang mengoleksi bahan-bahan dari seluruh dunia dalam bidang kedokteran, filsafat, sejarah, kesusastraan. Pada abad ke-8 dan 9, Bagdad menjadi pusat kebudayaan tempat orang belajar masalah kedokteran, ilmu pengetahuan, dan filsafat.
8. Perpustakaan Pertapaan
Runtuhnya kekaisaran Romawi membawa dampak pada kemunduran perpustakaan di Eropa. Satu-satunya institusi yang dapat mempertahankan perpustakaan adalah pertapaan Kristen yang berkembang pada sekitar tahun 500. Tujuan perpustakaan pertapaan adalah sebagai (a) tempat kegiatan spiritual, mengarsip teks-teks keagamaan, dan mereproduksi teks-teks spiritual dan kadang-kadang juga teks sekuler. Salah satu contoh perpustakaan pertapaan adalah perpustakaan pertapaan benediktin di MonteCasino, Italia, didirikan pada tahun 529.
9. Perpustakaan Masa Renaisans
Setelah abad pertengahan, terjadi perubahan yang besar di Eropa dalam bidang ekonomi, sosial dan politik. Kekuasaan kaum sekuler menguat, meningkatnya orang yang melek huruf, menurunnya dominasi gereja, meluasnya perhatian terhadap ilmu pengetahuan, politik dan tradisi filosofis terutama perhatian terhadap karya-karya klasik filsuf Yunani dan Romawi merupakan gambaran keadaan sosial masa renaisans. Dalam keadaan yang demikian, muncul kembali perpustakaan-perpustakaan pribadi sepanjang sejarah , yang terkenal misalnya perpustakaan Petrarch dan Boccacio. Munculnya perpustakaan selain karena adanya ketertarikan pada usaha mempelajari hal-hal sekuler juga sebagai simbol status sosial yang tinggi kala itu.
B. Sejarah Perpustakaan Islam
Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga ummat Islam mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya. Banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik oleh umat Islam dilupakan begitu saja. Akibatnya tatanan umat Islam baik aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan aspek kehidupan yang lain mengalami stagnasi. Sehingga ahirnya umat Islam hanya menjadi umat pengikut dari bangsa maju, yang dalam hal ini adalah dunia barat. Padahal kita menyadari bahwa kemajuan dunia barat dicapai dengan melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang di ambil dari pusat-pusat ilmu pengetahuan musli seperti perpustakan.
Dari paparan diatas menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu bangsa. Dalam hal ini banyak ilmu pengetahuan , informasi dan dokumentasi yang di sediakan perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam pemberdayaan umat. Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang di lakukan di sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak di adopsi oleh perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada. Banyak perpustakaan di ubah menjadi learningcenter atau resourcescenter. Hal ini mengidentifikasikan bahwa perpustakaan yang di perankan pada masa kejaaan Islam sangat penting dan representatif untuk pengembangan dan memajukan masyarakat.
Masa Perintisan Perpustakaan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka
Pada masa Nabi Muammad SAW dan para sahabatnya, perpustakaan dalam pengertian di atas tidak di temukan. Tapi cikal bakal atau rintisan perpustakaan sudah ada, yaitu sebagai berikut:
1. Wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ialah perintah kepada umat Islam untuk membaca (Iqra’).
2. Rasulullah SAW mengangkat para sahabatnya, antara lain; Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Khalid bin Walid sebagai penulis Al Qur’an.
3. Perintah Rasulullah SAW kepada tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Muslim membaca dan menulis.
4. Pada masa Rasulullah SAW muncul keinginan menulis Al Qur’an dalam bentuk mushaf pribadi seperti Mushaf Ubay bin Ka’ab, Mushaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ibn Abbas dan pada ahirnya melahirkan Mushaf Utsmani yang di salin menjadi 4 Mushaf. Tetapi riwayat lain menebutkan lima salinan di sebarkan ke kota Madinah, Makkah, Kuffah, Basrah dan Damaskus. Dan Mushaf-mushaf tersebut di jadikan referensi oleh Umat Islam. Peristiwa diatas mendorong umat Islam gemar menulis dan membaca dan menulis dan semua itu merpakan semangat di dalam perpustakaan.
Masa Pembentukan dan Pembinaan Perpustakaan
Ada beberapa hal yang melatar belakangi pembentukan dan pembinaan perpustakaan perpustakaan, di samping peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa perintisan, antara lain sebagai berikut:
1. Setelah Al Qur’an di kodifikasi dalam bentuk mushaf timbul keinginan masyarakat muslim, terutama yang hidup jauh dari masa Rasulullah SAW untuk memahami Al Qur’an dan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang di pahami dan dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Muncul keinginan dari sebagian ulama untuk membukukan sabda-sabda Rasulullah SAW, sekalipun pada awalnya mendapatkan tentangan karena berpegang kepada Hadits yang melarang penulisan bersumber dari Rasul selain Al Qur’an. Namun pada masa Umar bin Abdul Aziz (wafat 675 M) beliau dengan otoritasnya memerintah Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madani (wafat 695 M) untuk menghimpun hadits dan menulisnya dalam sebuah buku. Dia beralasan bahwa Rasulullah melarang menulis hadits karena di khawatirkan akan tercampur dengan Al Qur’an. Padahal pada waktu ia memerintahkan menulis hadits tidak ada kehawatiran tercampur dengan Al Qur’an, karena Al Qur’ansudh di kodifikasikan dalam bentuk mushaf. Kemudian hadits-hadits tersebut ditulis dan disebarluaskan ke penjuru negeri untuk di jadikan referensi.
2. Kepeloporan Ibn Syihab az-Zuhri di ikuti oleh ulama-ulma lainnya. Pada masa itu hadits menjadi primadona. Banyak ahli hadits yang rela melakukan perjalanan jauh dan melelahkan hanya demi mendapatkan sebuah hadits dan kemudian dihimpun dalam koleksi mereka masing-masing.ahirnya dikenal dengan koleksi Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Trmudzi, dan koleksi-koleksi linnya. Setiap koleksi bisa terdiri dari tiga jilid atau lebih bhkan sampai belasan jilid, sehingga menambah bahan rujukan Islam.
3. Gerakan penerjemahan yang di pelopori oleh Khalifa al-Mansur dari Daulah Abbasiyah telah membantu dalam penambahan jumlah koleksi pustaka pd waktu itu. Dia memperkejakan orang-orang Persia yang baru masuk Islam untuk menterjemahkan karya-karya berbahasa Persia dalam bidang astrolgi, ketatanegaraan dan politik, moral, seperti KalilawaDimma dan Sindhid di terjemahkankedalam bahasan Arab. Selain itu di terjemahkan dari bahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, lmagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomashus, Geometri karyEuclid. Gerakan penterjemahan dilanjutkan khalifah berikutnya, yaitu al-Al Makmun. Ia membayar mahal hasil penterjemahan.
Bahan pustaka yang cukup banyak tadi berupa mushaf Al Qur’anmaunhadits dan karya-karya terjemahan mendorong penguasa pada waktu itu ntuk mendirikan perpustakaan. Perpustakaan yang resmi berdiri pertama kali ntuk publik adalah Baitul Hikmah. Perpustakaan itu bukan saja berfungsi sebagai tempat penyumpanan buku, tetapi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun al-Rasyid intitusiperpustkaan bernama Khizanahal Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.Sejak tahun 815M, al-Makmun mengembangkan Lembga itu dengan mengubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa itu Bait al-Hikmh di gunakan secara lebih maju, yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia, Bizantium, Etiopia, dan India. Direktur perpustakaanya adalah seorang nasionalis persia dan ahli Pahlevi, yaitu Sahlibn Harun. Pada masa al-Makmun, Bait al-Hikmah ditingkatkan lagi fungsinya menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.
Untuk mengetahui perpustakaan pada waktu itu kita tinjau sekilas berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai berikut;
1. Perpustakaan Umum
Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan di masjid–masjid agar orang–orang yang belajar di masjid dan pengunjung dapat membaca buku–buku yang mereka perlukan. Kadang – kadang perpustakaan didirikan di masjid dengan maksud agar lembaga pendidikan dapat menampung pelajar–pelajar yang dating untuk mencari ilmu pengetahuan.
Perpustakaan umum sangat banyak jumlahnya, barang kali untuk menemukan suatu masjid atau sekolah–sekolah yang tidak memiliki perpustakaan dengan koleksinya yang siap di tela’ah dan muraja’ah bagi pelajar dan peneliti yang sedang mengadakan penelitian. Yang termasuk perpustakaan umum adalah sebagai berikut :
a. Baitul Hikmah
b. Al-Haidariyah di An-Najaf
c. Ibnu Sawwar di Basrah
d. Sabur
e. Darul Hikamah di Kairo
f. Perpustakaan-perpustakaan sekolah
2. Perpustakaan Semi Umum
Perpustakaan semi umum didirikan oleh para khalifah dan raja–raja untuk mendekatn diri kepada ilmu pengetahuan. Adupan perpustakaan semi umum antara lain;
a. Perpustakaan An-Nashir Li Dinillah
b. Perpustakaan Al-Muzta’sim Billah
c. Perpustakaan Khalifah–Khalifah Fathimiyah
3. Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan ini didirikan oleh ulama–ulama dan para sastrawan, khusus untuk kepentingan mereka sendiri. Perpustakaan ini sangat banyak karena hampir semua ulama dan sastrawan memiliki perpustakaan untuk menjadi sumber dan referensi bagi pembahsan dan penelitian mereka. Perpustakaan jenis ini antara lain;
a. Perpustakaan Al-Fathu Ibnu Haqam
b. Perpustakaan hunain Ibnu Ishaq
c. Perpustakaan Ibnul Harsyab
d. Perpustakaan Al Muwaffaq Ibnul Mathran
e. Perpustakaan Al-Mubasysir Ibnu Fatik
f. Perpustakaan Jamaluddin Al Qifthi
Peranan Perpustakaan pada Peradaban Islam
Perpustakaan pada awal kejayaan Islam menunukkan perannya dalam mennjang pendidikan umat. Perpustakaan yang di kelola oleh orang-orang Islam tidak hanya memperhtikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan, seperti msalah ibadah dan teologi, tapi juga mengelola disiplin ilmu yang lain seperti kedokteran, sosial, politik dan sebagainya. Berbagai peran perpustakaan pada masa peradaban Islam yaitu;
1. Pusat Belajar (Learning Center)
Setelah masa Khulafaur-Rasyidin, peradaban Islam berkembang dengan pesat. Perkembngan itu antara lain adalah proses pendidikan tertama pada masa Umaiyah dan Abbasiyah. Pada masa ini gairah dan apresiasi umat pada perpustakaan sangat tinggi. Mereka membangun perpustakaan, baik umum, khusus maupun perpustakaan pribadi. Sehingga tidak heran banyak masjid dan sekolah memiliki perpustakaan. Mereka menganggap bahwa perpustakaan sama pentingnya dalam membangun ilmu pengetahuan. Bahkan fungsi perpustakaan kadang-kadang tidak dapat di bedakan dengan fungsi lembaga pendidikan karena sama-sma memberikan smbangan dalam pengajaran kepada umat.
2. Pusat Penelitian
Sesungguhnya peran penelitian yang dilakukan oleh perpustakaan pada masa awal Islam sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa, misalnya utusan khalifah-khalifah atau raja-raja untuk membahas suatu bidang ilmu tertentu di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah. Disamping itu, para peneliti dan cendekiawan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan keahliannya. Banyak di antara mereka yang melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan penemuan-penemuan baru. Tentu saja aktivitas semacam ini tidak pernah terhenti sampai sekarang dan begitu pula pada masa datang selama perpustakaan menjalankan fungsinya sebagai sumber informasi.
3. Pusat Penerjemahan
Suatu hal yang amat menarik adalah di mana perpustakaan pada masa itu menjadi jembatan dari kebudayaan. Misalnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat. Dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan tersebut. Aktivitas semacam ini telah mendapatkan respon positif sehingga para penerjemah memperoleh status yang baik dalam masyarakat. Situasi ini mulai pada saat didirikannya perpustakaan yang pertama dalam dunia Islam. Menurut Kurd Ali, orang yang pertama kali menekuni bidang ini ialah Chalid Ibnu Jazid (meninggal tahun 656 M). Di lain sumber dikatakan bahwa Ibnu Jazid telah mencurahkan perhatiannya terhadap buku lama, terutama dalam ilmu kimia, kedokteran dan ilmu bintang.
4. Pusat Penyalinan
Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin yaitu sejak dari abad pertengahan telah dirasakan pentingnya bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu perpustakaan. Oleh karena itu alat-alat percetakan sebagaimana yang kita lihat di abad modern ini belum ada di masa itu, maka untuk mengatasi hal ini mereka adakan seleksi penyalinan pada tiap-tiap perpustakaan. Penyalinan buku itu diselenggarakan oleh penyalin-penyalin yang terkenal kerapihan kerja dan tulisannya
Masa Kemunduran dan Kehancuran Perpustakaan
Kemunduran dan kehancuran perpustakaan di era peradaban Islam mengikuti kejatuhan wilayah-wilayah muslim setelah pertarungan fisik melawan musuh-musuhnya. Misalnya perpustakaan di Tripoli di hancurkan oleh tentara perang Salib atas komando seorang rahib yang tak senang saat melihat banyak Al Qur’an di perpustakaan tersebut. Di samping itu perpustakaan terkenal lainya, seperti milik Sultan Nuh Ibn Mansur yang dibakar setelah filosuf besarnya menyelesaikan penelitiannya di tempat itu. Kenyataan itu menimbulkan tuduhan bahwa cendikiawan sendiri yang membakar perpustakaan setelah menguasai isi keilmuan yang terkandung dalam perpustakaan tersebut. Peristiwa lainya terjadi pada tahun 1258M ketika sekelompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Baghdad dan membakar perpustakaanya.
Demikianlah umat Islam berkembang dengan pesat pada awalnya seiring dengan perkembangan perpustakaan dan mundurnya umat Islam bersamaan dengan mundurnya perpustakaan. Dengan demikian cara untuk memajukan peradaban umat Islam adalah salah satunya dengan memajukan perpustakaan yaitu dengan membina perpustakaan dan meningkatkan kesadaran umat Islam akan pentingnya ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
C. Sejarah Perpustakaan Di Indonesia
Perpusatakaan merupakan tempat yang menyimpan beraneka ragam informasi, memiliki koleksi informasi yang beragam mulai dari buku, video, document dan lain sebagainya yang bisa kita nikmati informasinya baik secara langsung di perpustakaan itu sendiri ataupun kita bisa meminjamnya dan menikmatinya dirumah sesuai ketentuan yang berlaku.Karena perpustakaan pada umumnya dikelola oleh sebuah lembaga dan disediakan untuk siapa saja, maka dari itu di setiap perpustakaan menetapkan peraturan agar supaya koleksi dari perpustakaan tersebut jika dipinjam masih bisa tetap dipertanggung jawabkan. Saat ini di Indonesia kita dengan mudah menemukan perpustakaan misalnya disekolah-sekolah, kampus, atau pun di perpustakaan nasional. Dalam sejarah perpustakaan di Indonesia ternyata sudah ada sejak masa lampau yaitu masa-masa kerajaan, masa hindia belanda, masa penjajahan jepang dan masa kemerdekaan hingga sampai sekarang. Berikut adalah sejarah perpustakaan Indonesia.
Masa kerajaan
Sebenarnya tidak ada bukti atau catatan khusus mengenai perpustakaan di zaman kerajaan kuno. Namun banyak yang berasumsi bahwa di masa kerajaan telah terdapat semacam tempat untuk menyimpan dan mengoleksi buku, catatan, atau apapun yang dianggap sebagai informasi pada zaman tersebut.
Masa Hindia-Belanda
Di zaman ini mulai muncul perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Contohnya adalah sebagai berikut:
1. Perpustakaan di gereja yang ada di Batavia (1624), diduga adalah perpustakaan tertua yang tercatat di sejarah Indonesia.
2. Perpustakaan Batavia (sekarang Museum Nasional RI) yang berdiri tahun 1778.
3. Perpustakaan di sekolah-sekolah, misalnya di Stovia.
4. Perpustakaan di Kraton Mangkunegoro yang menyediakan naskah atau catatan kuno dan hanya bisa dibaca di tempat (tidak boleh dipinjam)
Masa penjajahan Jepang
Di zaman ini, hampir seluruh perpustakaan yang ada di Indonesia ditutup oleh Jepang, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah.
Masa kemerdekaan-sekarang
Pemerintah Indonesia mendirikan berbagai perpustakaan, termasuk taman baca yang dimaksudkan untuk mencerdaskan rakyat Indonesia.
1. Taman Perpustakaan Rakyat dibuat pemerintah sekitar tahun 1950-an.
2. Pada tahun 1980-an, berdiri Perpustakaan Nasional RI yang juga mengelola Museum Nasional RI. Dengan perkembangan teknologi, sampai saat ini perpustakaan di Indonesia pun mengalami kemajuan dalam pengelolaannya.
Manfaat Perpustakaan
Berikut ini adalah manfaat utama dari didirikannya perpustakaan.
1. Dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Hal ini tentu saja harus ditunjang dengan koleksi informasi yang lengkap, mulai dari buku maupun informasi digital.
2. Karena perpustakaan adalah tempat yang penuh dengan informasi, maka perpustakaan bisa memberi wawasan yang sangat luas untuk masyarakat. Hal ini membuat perpustakaan juga berperan aktif dalam usaha peningkatan kecerdasan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar